NPM : 58413503
Kelas : 2IA14
Kelas : 2IA14
Pembentukan lebih lanjut ialah pembentukan kata
turunan melalui proses morfologi bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan
sebagai bentuk dasamya. Kata-kata serapan, sebagai warga kosakata bahasa
Indonesia, juga dapat mengalami proses pembentukan sebagaimana warga kosakata
yang lain. Proses pembentukan itu ada tiga macam, yaitu pengimbuhan,
pengulangan, dan pemajemukan. Dalam kaitannya dengan unsur serapan, pembicaraan
hanya menyangkut pengimbuhan, karena dalam pengulangan dan pemajemukan tidak
ada yang perlu dibicarakan.
Pembicaraan mengenai pembentukan lebih lanjut
sebenamya sudah dimulai ketika dibicarakan konfiks peng-an dan ke-an dengan
unsur serapan sebagai kata dasamya. Begitu juga waktu dibicarakan pengulangan
kata 'data' 'politisi', dan 'arwah'. Kata-kata yang diawali oleh konsonan
hambatan tak bersuara lpl,/tl,/kl, dan geseran apiko-alveolar Isl jika mendapat
awalan meng- atau peng- fonem tersebut hilang atau luluh, contohnya : pukul
menjadi memukul dan pemukul, tolong menjadi menolong dan penolong, karang
menjadi mengarang dan pengarang, susun menjadi menyusun dan penyusun.
Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan
hambatan bilabial tak bersuara /p/ contohnya : paket, parker, potret, piket.
Jika mendapat awalan meng- dan peng- atau peng-an, kata-kata tersebut menjadi
memaketkan, memarkir, memotret, dan memiketi; pemaketan, pemarkiran,
pemotretan, pemiketan. Jadi kata-kata serapan tersebut diperlakukan sama dengan
kata-kata dalam bahasa Indonesia yang lain.
Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan
hambatan apiko dental tak bersuara It/
contohnya: target, teror, terjemah, telpon. Apabila dibentuk dengan awalan
meng- menjadi menargetkan atau mentargetkan; meneror atau menteror,
menerjemahkan, dan menelpon. Jika dibentuk denganpeng-an menjadi;penargetan
atau pentargetan, peneroran atau penteroran, penerjemahan, dan penelponan.
Bentukan menargetkan dan penargetan, meneror dan peneroran agaknya masih belum berterima. Soal keberterimaan itu
rupanya ditentukan oleh tingkat keasingan (atau keindonesiaan) kata serapan
tersebut. Kata 'tekel' (dari tackle) tidak berterima jika dibentuk menjadi
menekel dan penekelan, yang berterima ialah men-tekel dan pen-tekel-an.
Untuk kata-kata yang belum dikenal, bukan saja
konsonan awalnya tidak mengalami peluluhan, melainkan juga diberi tanda hubung untuk mempertegas batas
antara kata dasar dengan
unsur-unsur pembentukannya, seperti contoh di atas yaitu men-tekel
danpentekeI-an. Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan
dengan system fonologi bahasa Indonesia menjadi /p/. Yang sudah disesuaikan
menjadi /p/ mengalami penghilangan atau luluh, sedang apabila tetap /f/
mendapat sengauan yang homorgan, yaitu /ml. Contohnya: pikir menjadi memikirkan
dan pemikiran; fitnah menjadi memfitnah dan pemfitnahan.
Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /kl yang
mengalami kata-kata
katrol, kontak, konsep, dan keker luluh apabila
mendapat awalan meng- atau konfiks peng-an seperti terlihat pada: mengatrol dan
pengatrolan, mengontak dan pengontakan,
mengonsep danpengonsepan, mengekerdanpengekeran.
Kata-kata
serapan yang diawali
dengan fonem geseran
apiko-dental tak
bersuara Isl ada yang mengalami peluluhan ada yang
tidak. Kata-kata tersebut contohnya: sample, seior. sekrup, setop. Jika
mendapat awalan meng- dan peng-an kata-kata tersebut menjadi menyampel
danpenyampelan, menyetor danpenyetoran, menyekrup danpenyekrupan, menyetop
danpenyetopan.
Seperti halnya pada unsur serapan yang lain,
kata-kata yang masih terasa asing mendapat perlakuan yang berbeda, contohnya
pada kata "sinkrun" dan "sistematis",jika mendapat awalan
meng- danpeng-an menjadi mensinkrunkan dan pensinkrunan, mensistematiskan danpensistematisan.
Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan
/pr/ seperti pada prates, program, produksi, dan praktik, jika mendapat awalan
meng- Ip/ tidak luluh menjadi: memprotes, memprogram, memproduksi, dan
mempraktikkan. Tetapi apabila mendapat konfiks peng-an /p/-nya luluh menjadi:
pemrotesan, pemrograman, pemroduksian, dan pemraktikan. Ini bukan perlakuan
yang istimewa untuk unsur-unsur serapkan sebab hal yang demikian itu kita lihat
juga pada bentukan memperkirakan. memprihatinkan.
Bagaimana dengan kata serapan yang diawali gugus
konsonan /tr/, /kr/, dan
/st/? kata-kata serapan yang diawali dengan gugus
/kr/ contohnya: kritik, kristal, kredit, kreatifkonsonan /k/-nya tidak hilang
bila mendapat awalan meng- menjadi : mengkritik, mengkristal, mengkristal dan
Tetapi /kl itu lebur apabila mendapat awalan peng- atau peng-an menjadi:
pengritikan dan pengritik, pengristalan dan pengreditan danpengredit.
Kata-kata serapan yang diawali dengan gugus konsonan
/tr/, /st/, /ski, /sp/,
/pl/, /kl/, konsonan yang awalnya tidak pemah
mengalami peleburan, baik dalam pembentukan dengan awalan meng-, peng-, maupun
konfiks peng-an, contohnya: mentraktir, pentraktir, menstabilkan, penstabil,
penstabilan; menskalakan, penskala, penskalaan; mensponsori, pensponsor,
pensponsoran; memplester, pemplester, pemplesteran; mengkliping, pengkliping,
pengklipingan.
Kata-kata serapan yang diawali oleh gugus konsonan
yang terjadi atas tiga fonem dan fonem yang pertama berupa hambatan atau
geseran tak bersuara, kalau ada, sudah tentu konsonan pertamanya tidak pemah
lebur apabila mendapat awalan meng- ataupeng-.
Kata-kata serapan itu tentu saja juga dapat mengalami
proses pengulangan seperti pada: traktor-traktor, computer-komputer dan
sebagainya. Kata-kata serapan tidak dapat mengalami perulangan sebagian yang
berupa dwipurwa atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal
pada suku ulangannya juga tidak luluh, contohnya: mempraktis-praktisan,
mengkritik-kritik, menstabil-stabilkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar