Nama : Sinta Novianka
NPM : 58413503
Kelas : 2IA14
A.
Ucapan
·
Bahasa Indonesia bagi sebagian besar penuturnya
adalah bahasa kedua.
·
Para penutur yang berbahasa Indonesia, bahasa
Indonesia mereka terpengaruh oleh bahasa daerah yang telah mereka kuasai
sebelumnya.
·
Pengaruh yang sangat jelas ialah dalam bidang
ucapan.
·
Pengaruh dalam ucapan itu sulit dihindarkan dan
menjadi ciri yang membedakan ucapan penutur bahasa Indonesia dari daerah satu
dengan daerah yang lain.
B.
Ejaan
1.
Pengantar
·
Ejaan penting sekali artinya dalam kaitannya
dengan penggunaan bahasa Indonesia produktif tulis.
·
Dalam surat-surat pribadi dan kalimat catatan
harian misalnya, ketaatan dalam EYD tidak mutlak.
·
Dalam karangan ilmiah, dalam makalah, dan dalam
surat-surat perjanjian, kaidah ejaan harus betul-betul ditaati.
2.
Penulisan
Huruf
a.
Penulisan
Huruf Kapital
·
Huruf capital digunakan untuk mengawali kalimat
yang baru.
Contoh :
Ø
Dia tampan sekali.
Ø
Apa maksudnya?
Ø
Kita harus bekerja keras.
·
Huruf capital digunakan sebagai huruf awal pada
nama diri.
Contoh :
Ø
Mahaputra Yamin
Ø
Sultan Hasanuddin
Ø
Haji Agus Salim
·
Ucapan langsung juga diawali dengan huruf
capital.
Contoh :
Ø
"Coba saja telepon kembali besok,"
katanya, "dia pasti masuk kantor."
Ø
Kata Budi, "Buku teknik menulis itu enggak
bagus," padahal dibelinya, "mahal pula itu."
Ø
"Aku tak begitu ingat namanya. Mungkin
Tina, Nita, atau ...," ujar Budi, berpikir sejenak, "Lina! Ya,
Lina."
·
Huruf capital dipakai sebagai huruf pertama yang
berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab suci.
Contoh :
Ø
Islam Quran
Ø
Kristen Alkitab
Ø
Hindu Weda
·
Untuk Tuhan kata
gantinya ditulis dengan huruf capital.
Contoh :
Ø
Semoga Dia
tidak melupakan hamba-Nya
Ø
Hanya Engkaulah
yang kami sembah
·
Nama diri, gelar kehormatan, keturunan, atau
keagamaan, juga ditulis dengan huruf capital.
Contoh :
Ø
Nabi Ibrahim
Ø
Haji Agus Salim
Ø
Sultan Hasanudin
·
Nama jabatan juga ditulis diawal dengan huruf
capital apabila dikaitkan dengan nama instansi atau nama daerah sebagai
pengganti nama diri.
Contoh :
Ø
Gubernur DKI Jakarta
Ø
Rektor Universitas Gunadarma
·
Nama diri atau nama lembaga yang terdiri atas
beberapa kata, kata-kata tersebut diawali dengan huruf capital apabila kata
tersebut berupa kata tegas.
Contoh :
Ø
Amir Hamzah
Ø
Halim Perdana Kusuma
Ø
Sapardi Djoko Damono
·
Kata-kata yang menunjukkan hubungan kekerabatan,
seperti bapak, ibu, saudara, paman, huruf awalnya ditulis dengan huruf capital,
apabila digunakan sebagai kata sapaan atau kata yang digunakan untuk menyebut
lawan bicara.
Contoh :
Ø
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Ø
Fakultas Teknologi Industri Universitas
Gunadarma
·
Kata “Anda” diawali dengan huruf capital.
Contoh :
·
Kata-kata yang digunakan dalam pengertian khusus
harus ditulis dengan huruf capital, sedangkan kata-kata dengan pengertian umum
ditulis dengan huruf kecil.
Contoh :
Ø
Suatu negara yang berbentuk republic itu
dikepalai oleh seorang presiden.
Ø
Suatu provinsi dikepalai oleh seorang gubernur.
Ø
Presiden Republik Indonesia akan melawat ke luar
negeri.
Ø
Ia diterima menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma tahun kuliah 2003/2004.
·
Nama diri yang biasanya diawali huruf capital
juga ditulis dengan huruf kecil apabila diapit dengan awalan atau akhiran.
Contoh :
Ø
Ucapan keinggris-inggrisan.
Ø
Masalah-masalah ketuhanan jangan dicampuradukkan
dengan masalah-masalah keduniaan.
b.
Huruf
Tebal dan Huruf Miring
·
Judul buku atau nama majalah harus ditulis
dengan huruf tebal. Apabila ditulis dengan tangan kata-kata yang merupakan
judul buku ini harus diberi garis bawah.
Contoh :
Ø
Tata
Bahasa Baku Indonesia
Ø
Pedoman
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Ø
Pengajaran
Bahasa dan Sastra
Ø
Pembinaan
Bahasa Indonesia
Ø
Hukum dan
Keadilan
·
Judul naskah yang belum diterbitkan sebagai buku
seperti naskah skripsi, tesis, atau disertai cukup ditulis dalam tanda petik
(“______”).
Contoh :
Ø
“Ejaan yang Benar dalam bahasa Indonesia”.
Ø
“Frase Nomina dalam bahasa Indonesia”.
Judul-judul
tersebut kalau dicetak ditulis dengan huruf miring.
Contoh
:
Ø
“Ejaan
yang Benar dalam bahasa Indonesia”.
Ø
“Frase
Nomina dalam bahasa Indonesia”.
·
Judul karangan yang dimuat dalam majalah atau
dalam buku kumpulan karangan, atau judul satu bab dari suatu buku yang harus
ditulis dengan huruf miring, kalau diketik atau ditulis tangan di antara tanda
petik.
Contoh :
Ø
Karangan Djoko Kencono yang berjudul
"Penyempumaan Ejaan Bahasa Indonesia" dimuat
dalam buku Bahasa dan Kesustraan Indonesia sebagai Cermin 1\1anusia
Indonesia Baru.
·
Huruf miring juga dipergunakan untuk
menegaskan atau mengkhususkan kata, bagian kata atau kelompok kata.
Contoh :
Ø
Huruf pertama kata abad adalah a.
Ø
Dia
bukan menipu tetapi ditipu ("me-" dan
"di-" ditulis miring).
Ø
Yang saya maksudkan prestasi bukan prestise.
Ø
Buatlah kalimat-kalimat dengan kata
berlepas tangan.
·
Huruf miring juga digunakan untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing yang belum
disesuaikan ejaannya.
Contoh :
Ø
Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mongostana.
Ø
Politik devide et impera pemah merajalela di negeri ini.
3. Penulisan Partikel dan Awalan
·
Perlu diperhatikan penulisan kata atau
partikel yang dirangkaikan dan yang tidak dirangkaikan.
·
Ada kata atau awalan yang harus ditulis
serangkai, yaitu adi- misalnya pada
adidaya, adikuasa, adimarga, adibusana.
·
Awalan awa- pada awabau, awaair,
awawarna, awasuara. Awalan awa- ini digunakan untuk mengindonesiakan awalan
de- pada kata-kata pinjaman dari bahasa lnggris dan belanda seperti deodorant, dehidrasi, devoice yang
artinya 'penghilangan' atau 'alat' untuk menghilangkan'. Juga mala- seperti
pada malabentuk, malapraktik, malagizi.
·
Kata
antara ditulis
terpisah, tetapi antar-
ditulis serangkai. Contoh : antarkota,
antarpulau, antarnegara, antarbangsa.
·
Kata maha apabila dirangkai dengan kata
dasar ditulis serangkai. Contoh : mahasiswa,
mahaguru, Mahakuasa, Mahaadil. Tetapi apabila dirangkai dengan kata
bentukan tidak dirangkaikan. Contoh : Maha
Pemurah, Maha Mengetahui, Maha Pengampun. Yang dikecualikan dari ketentuan
di atas ialah kata Maha esa yang
meskipun kata maha itu dirangkai
dengan kata dasar, tetapi harus dipisah Ejaan yang betul menurut Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan ialah Tuhan Yang MahaEsa.
·
Bentuk-bentuk lain yang dirangkai ialah awalan pra-, pasca-,
pramu-, purna-, tuna-. Contoh : prasejarah,
pascasarjana, pascapanen, pramuwisata, pramuria, purnawaktu, purnawirawan, swadaya, swalayan,
swasembada, tunakarya, tunasusila, tunarungu.
·
Kata-kata seperti
anti-, non-, sub-, poli-.
Ultra-, supra-. Juga ditulis serangkai dengan kata mengikuti, seperti antikomunis, nongelar, subunit, politeknik, ultramodern, supranatural.
·
Gabungan dua kata yang diapit oleh awalan dan
akhiran juga ditulis serangkai. Contoh:
pertanggungjawaban, ketidakhadiran, dan menandatangani.
·
Kata-kata yang harus ditulis
serangkai ialah : padahal, daripada,
barangkali, sekaligus, apabila, bilamana,jikalau, andaikata, manakala.
4. Penulisan Bilangan
·
Bilangan ada yang harus ditulis dengan
angka, ada yang harus ditulis dengan huruf.
·
Bilangan yang menunjukan tahun, jam,
tanggal, nomor rumah, harus ditulis dengan angka. Begitu juga bilangan yang
digunakan untuk memberi nomor bab, subbab, atau bagian-bagian dari subbab.
·
Bilangan yang
menunjukkan jumlah dari satu sampai
sembilan ditulis dengan huruf,
jumlah seperti “dua juta rupiah” dapat juga ditulis dengan huruf, kecuali di
dalam tabel atau grafik.
·
Dalam tabel atau grafik jumlah satu
sampai sembilan pun ditulis dengan angka.
·
Jumlah
seperti uang, luas tanah, berat suatu benda, jarak antara suatu tempat
dengan tempat lain, singkatnya jumlah yang menyatakan ukuran dengan timbangan,
selalu ditulis dengan angka, atau kadang ditulis dengan angka tetapi juga
disertai dengan huruf yang ditaruh di antara tanda kurung.
·
Dalam penulisan jumlah, ukuran dan
timbangan itu di gunakan juga tanda titik dan koma. Singkatan-singkatan seperti
Rp (rupiah), kg (kilogram), m (meter), It (liter) tidak perlu ditulis dengan
tanda titik.
·
Tanda titik digunakan pada jumlah
satuan ribuan. Contoh : 1.000.000. untuk bilangan yang menyatakan rupiah
digunakan tanda koma di belakang satuan rupiah yang diikuti oleh nol untuk
satuan ketip dan sen. Jadi jumlah yang satujuta limaratus riburupiah ditulis Rp
1.500.000,00.
·
Untuk menyatakan jam, misalnya pukul
setengah tiga, tanda titik itu ditaruh antara jam dan menit.
·
Untuk jumlah waktu yang terdiri atas
jam, menit, dan detik digunakan dua titik. Misalnya : dua jam lima belas menit sepuluh detik ditulis 2.15.10.
·
Bilangan tingkat dapat dinyatakan
dengan huruf, dengan angka, dan dengan huruf dan angka. Jadi ketiga dapat
ditulis ketiga atau ke-3 atau III, abad kedua puluh, abad ke-20 abad XX. Jadi
awalan ke hanya digunakan apabila dihubungkan dengan angka Arab. Angka Romawi
tanpa awalanke- sudah menyatakan tingkat.
·
Dalam kuitansi atau surat-surat yg
mempunyai kekuatan hokum jumlah yang ditulis dengan angka masih disertai jumlah
yang ditulis dengan huruf yang ditulis di antara tanda kurung.
5. Tanda Baca
Ada bermacam-macam tanda
baca/pungtuasi, seperti titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (: ),
dan petik ("…")
a. Tanda Titik (.)
·
Tanda titik dipakai untuk menandai
berakhirnya kalimat.
·
Tanda titik digunakan sesudah nomor bab
atau subbab atau bagian dari subbab. Penomoran bab atau subbab yang menggunakan
sistem persepuluh pada angka terakhir tidak disertai titik untuk menghemat
tempat.
·
Singkatannya yang terdiri dari
huruf-huruf kapital, seperti SMP, SMA, ABRI tidak menggunakan titik.
·
Singkatan dengan huruf kapital yang
merupakan gelar yang diletakkan di belakang nama tetap menggunakan titik di belakang
tanda koma tersebut. Contoh : Dr.
Dharma Tintri, Izzati Amperaningrum,
S.E. M.M singkatan yang menggunakan huruf kecil menggunakan titik.
Misalnya :
Ø
atas nama a.n.
Ø
untukbeliau u.b.
Ø
dan sebagainya dsb.
·
Judul bab atau judul bagian subbab
perlu menggunakan titik apabila judul itu langsung diikuti uraian yang dimulai
dengan baris yang sama dengan judul subbab atau judul bagian subbab tersebut.
·
Alamat surat, baik alamat pengirim
ataupun alamat yang dituju, tidak menggunakan titik karena alamat tersebut
tidak merupakan kalimat.
·
Tanda titik tidak dipakai pada
singkatan-singkatan yang berkenaan dengan ukuran atau timbangan, seperti Rp
(rupiah), kg (kilogram), m (meter), 1t (liter) dan sebagainya.
·
Tanda titik digunakan dalam daftar
pustaka yang rujukanya menggunakan sistem rujukan tahun dan halaman. Karangan
yang menggunakan rujukan pengarang atau penyunting, antara judul buku dan kota
penerbit. Contoh : Alisyahbana, Sutan Takdir. 1949. Tata Bahasa Baru Indonesia. Jakarta : Pustaka Rakyat.
b. Tanda Koma (,)
·
Koma digunakan untuk menandai adanya
jeda atau kesenyapan antara dalam suatu kalimat.
·
Tanda koma sering digunakan setelah
seruan, seperti : ah, wah, aduh, ya, hai, dan sebagainya. Juga sesudah kata-kata
seperti meskipun begitu, jadi, namun demikian, oleh karena itu, maka dari itu.
·
Tanda koma juga digunakan dalam kalimat
majemuk yang anak kalimatnya mendahului induk kalimatnya.
Contoh :
Ø
Meskipun hujan, ia pergi juga ke
kantor,
Ø
Karena sakit, ia tidak jadi pergi ke
Jakarta.
·
Tanda koma digunakan juga untuk
memisahkan dua kalimat yang setara yang dihubungkan dengan kata tetapi, atau, melainkan.
Contoh :
Ø
Orang itu kaya, tetapi tidak kikir
Ø
Yang sudah lulus bukan dia, melainkan adiknya
·
Tanda
koma juga digunakan
untuk membatasi unsur-unsur
dalam suatu perincian.
Contoh :
Ø
Jurusan-jurusan dalam Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma ialah Jurusan Akuntansi, dan Jurusan Manajemen.
·
Yang harus diperhatikan ialah sebelum
dan masih digunakan tanda koma.
·
Tanda koma juga digunakan dalam rujukan
kurung atau dalam rujukan tahun dan halaman, untuk membatasi nama akhir
pengarang dengan tahun penerbit.
Contoh :
Ø
Kalimat ialah satuan kumpulan yang
mengandung arti penuh (Alisyahbana, 1953 : 20)
·
Tanda koma juga digunakan untuk
membatasi kata-kata dalam kalimat petikan langsung.
Contoh :
Ø
Ibu berkata, ''Ayahrnu belum
pulang".
Ø
"Saya gembira sekali", kata
Pak lurah, "desa kita menjadi juara pertama".
·
Tanda koma sering digunakan untuk
mengapit atau menyisipkan keterangan tambahan.
Contoh :
Ø
Pemuda itu, yang bertahun-tahun
merantau, sudah pulang ke desanya.
·
Tanda koma juga dipakai di antara nama
dan alamat, bagian-bagian alamat, dan di antara nama tempat dan wilayah suatu
negara yang ditulis secara beruntun.
Contoh :
Ø
Yth. Dr, Aries Budi Setyawan., Dosen
Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma, Jakarta
·
Koma juga digunakan untuk membatasi
nama dan gelar yang terletak di belakang nama, jumlah rupiah, ketip dan sen,
antara satuan dan persepuluh.
Contoh :
Ø
Prof. Dr., Dali S. Naga.
Ø
Rp l.250,50
Ø
Nilainya 7,5
c. Titik Koma (;)
·
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan
bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh :
Ø
Semua
murid diperlakukan sama;
tidak ada murid
yang dianakemaskan.
·
Tanda titik koma juga digunakan untuk
membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma.
Contoh :
Ø
Di toko swalayan itu Amin membeli
kemeja, sepatu, sapu tangan, dan kaos kaki; Ali membeli ikat pinggang, topi,
dasi dan kaca mata; sedang Amat membeli buku tulis, pulpen, penggaris, dan
minyak rambut.
·
Tanda titik koma digunakan juga untuk
memisahkan kalimat-kalimat dalam suatu perincian.
Contoh :
Dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan teirma kasih yang sebesar- besamya
kepada:
1)
Bapak Dr., Aries Budi Setyawan dan lbu
Masodah, S.E. M.M sebagai pembimbing 1 dan pembimbing 2, yang dengan penuh
kesabaran telah memberikan petunjuk dan nasihat-nasihatnya;
2)
Ibu Izzati Amperaningrum, S.E. M.M ,
dosen wali penulis yang telah banyak memberikan bimbingan selama penulis
belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma;
3)
Ir. Arjuna, pacar penulis yang dengan
setia mendampingi penulis menyelesaikan skripsi ini.
Dalam
surat- surat keputusan tanda titik koma banyak digunakan untuk membatasi kalimat-
kalimat yang merupakan bagian dari konsideransi dan bagian dari isi putusan itu
sendiri.
Contoh :
Mengingat bahwa 1………………..;
2………………..;
3………………..;
Membimbing 1………………..;
2………………..;
3………………..;
Memutuskan 1………………..;
2………………..;
3………………..;
d. Titik Dua (:)
·
Tanda titik dua dipakai akhir suatu
pemyataan yang lengkap dan diikuti oleh rangkaian atau perincian.
Contoh : Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma mempunyai
dua jurusan Jurusan Akuntansi dan Jurusan Manajemen.
·
Titik dua juga digunakan pada kata-kata
misalnya, contohnya, dan sebagai berikut yang diikuti perinciaan.
·
Tanda titik dua juga digunakan untuk pemerian yang berbentuk formula, misalnya pemerian suatu organisasi
sebagai berikut :
Ketua :
Meilani
Sekretaris : Lies Handrijaningsih
Bendahara : Sri KumiasihAgustin
Juga
dalam surat- surat undangan yang menyebutkan hari/tanggal, pukul, tempat, dan
cara dalam bentuk formula berikut :
Dengan Hormat,
Kami
mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara dalam
suatu rapat pengurus
Yang akan kita selenggarakan pada :
Hari/tanggal : Senin, 25 Juli 2005
Pukul : 10.30
Tempat :
Di Gedung 5 Lantai 1 Depok
JI. Margonda Raya 100 Pondok Cina-Depok.
Dengan Acara : Penyusunan Rencana Kegiatan Akademis. Apabila uraian di
atas tidak disusun dengan formula seperti
tersebut diatas, tanda titik dua tidak perlu dipergunakan.
Contoh :
Organisasi itu diketuai
oleh Meiliani, dengan
sekretaris,
Lies
Handrijaningsih, dan bendahara Sri Kumiasih Agustin. Rapat itu
diselenggarakan pada tanggal 25
Juli 2005, pukul 10.30 diruang sidang Gedung 5 Lantai 1
Depok.
·
Tanda titik dua juga digunakan untuk
membatasi judul karangan dengan subjudulnya, di antara surat dan ayat dalam
kitab suci, diantara tahun dan halaman dalam rujukan kurung antara nama kota
dan nama penerbit dalam daftar pustaka.
Contoh : Ekonomi dan Koperasi : Suatu Pengantar
Singkat (Ramlan, 1982 :12)
e. Tanda Petik (“_”)
·
Yang ditulis dengan tanda petik dalam
tulisan atau ketikan biasanya dicetak dengan huruf miring.
·
Penggunaan tanda petik dalam petikan
langsung tidak dicetak dengan huruf miring, melainkan tetap dicetak dengan
suatu majalah pun tanda petik itu tetap digunakan.
·
Dalam karangan tercetak tanda petik
juga digunakan untuk menandai kata-kata yang tidak digunakan dalam arti yang
sebenamya. Misalnya : Itu dia "pahlawan" kita datang.
f.
Tanda
Hubung (-)
·
Tanda hubung digunakan untuk
menghubungkan kata-kata yang diulang seperti meja-meja, berjalan-jalan,
buah-buahan.
·
Tanda hubung digunakan apabila
huruf-huruf dirangkaikan dengan bilangan, huruf kecil, atau huruf kecil yang
dirangkaikan dengan huruf kapital.
Contoh :
Ø
Abad ke-20
Ø
Tuhan selalu melindungi hamba-nya
Ijazah SMA-nyahilang.
·
Tanda hubung juga digunakan untuk
membatasi tanggal, bulan, dan tahun apabila semuanya ditulis dengan angka.
Contoh : Jakarta, 27-11-2005
·
Tanda hubung juga digunakan untuk
menghubungkan awalan atau akhiran dalam bahasa Indonesia yang dirangkaikan
dengan kata dasar asing.
Contoh : Di-smash, pen-tackle-an
·
Tanda hubung juga digunakan untuk
menandai hubungan kata-kata dalam kelompok kata agar tidak menimbulkan tafsiran
yang tidak dikehendaki.
Contoh : Istri pejabat yang nakal itu.
Untuk menjelaskan bahwa yang nakal itu
adalah istri pejabat maka antara istri dan pejabat perlu diberi tanda hubung .
Kalau yang nakal itu pejabat maka yang diberi tanda hubung antara yang nakal
dan pejabat. (istri-pejabat yangnakal itu. Istri pejabat-yangnakal itu).
6. Tanda-Tanda Baca yang Lain
·
Tanda tanda baca yang lain ialah tanda
pisah (-), tanda elipsis (...), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung
(), tanda kurung siku ([ ]), tanda garis miring (!) dan tanda
penyingkat/apostrof (').
Contoh :
Ø
Kemerdekaan bangsa itu- saya yakin akan
tercapai-diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
Ø
Rangkaian temuan
ini evolusi, teori
kenisbian, dan kini
juga pembelahan atom telah
mengubah konsepsi kita
tentang alam semesta
·
Tanda pisah juga digunakan dalam arti "sampai
dengan".
Contoh :
Ø
1950--2005
Ø
Tanggal 18- Mei 2005
Ø
Pukul 09.30 - 11.00
Ø
Semarang - Jakarta
·
Tanda elips ( ...) digunakan untuk
menandai tuturan yang terputus-putus.
Contoh : Kalau engkau tidak mau ....yah
..., biarlah saya pulang saja.
·
Tanda elips yang digunakan dalam suatu
kutipan menunjukan bahwa ada kata-kata yang tidak dikutip dalam kutipan
tersebut.
Contoh : "Morfem ialah ....bentuk
bebas yang terkecil"
·
Tanda tanya digunakan untuk menandai
kalimat tanya dan diletakan di akhir kalimat.
Contoh : Di mana rumahmu?
·
Tanda
tanya yang ditaruh
di antara tanda
kurung digunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau
kesangsian.
Contoh :
Ø
Ia dilahirkan pada tahun 1896 (?)
Ø
Uangnya sebanyak sepuluhjuta rupiah(?)
telah hilang
·
Tanda seru digunakan untuk menandai
seruan/perintah/panggilan
·
Tanda kurung juga digunakan untuk
mengapit penjelasan atau keterangan
Contoh : Bagian perencanaan sudah selesai merencanakan DIK (Daftar Isi
Kerja) kantor
ini.
·
Tanda kurung juga untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang
bukan merupakan bagian yang pokok dari pembicaraan.
Contoh : Keterangan ini)lihat tabel 10)
menunjukan arus perkembangan baru dalam
pemasaran dalam negeri.
·
Tanda kurung juga dipergunakan untuk
mengapit angka atau huruf yang memerinci keterangan.
Contoh : Faktor produksi menyangkut
masalah (a) alam, (b) tenaga kerja dan (c)modal.
·
Tanda kurung siku digunakan sebagai
tanda koreksi bahwa dalam naskah itu terdapat huruf, kata, atau kelompok kata
yang ditulis di antara tanda kurung siku tersebut.
Contoh : Si Bintang Men[d]engar bunyi
gemerisik.
·
Tanda kurung siku di gunakan juga untuk
memberi tanda kurung di dalam bagian kalimat yang sudah menggunakan tanda
kurung.
Contoh
: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab 11 [lihat
halaman 25-38] tidak dibicarakan ) perlu di
bentangkan di sini.
·
Tanda garis miring digunakan dalam
penomoran surat.
Contoh : NO:7/TP09/k/91
·
Dalam alamat untuk membatasi antara
gang dengan nomor.
Contoh : Jl. Erlangga 7I19
·
Untuk menunjukkan tahun anggaran atau
tahun kuliah.
Contoh : 2003/2004
·
Garis miring berarti juga tiap-tiap
atau per.
Contoh : Rp2500/orang
·
Tanda penyingkat atau apostrof (') digunakan untuk menunjukan adanya
bagian - bagian yang dilesapkan.
Contoh :
Ø
Istana yang megah 'kan ku dirikan
(kan=akan)
Ø
Malam 'lah tiba ( 'lah=telah)
Ø
Januari'05 ('05=2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar